Chrysanthemum, marissa haque fawzi alumni unika atmajaya jakarta

Chrysanthemum, marissa haque fawzi alumni unika atmajaya jakarta
Chrysanthemum, marissa haque fawzi alumni unika atmajaya jakarta

Marissa Haque Alumni Pasca Sarjana, FKIP Unika Atmajaya, Jakarta

Marissa Haque Alumni Pasca Sarjana, FKIP Unika Atmajaya, Jakarta
Belajar Ilmu Psicho-linguistics Khusus untuk Anak Tunarungu di FKIP Unika Atmajaya, Jakarta, Ikang Fawzi dan Marissa Haque

Buku Kedua Marissa Haque, "Bahasa Kasih", Alumni Pasca Sarjana LTBI Unika Atmajaya

Buku Kedua Marissa Haque, "Bahasa Kasih", Alumni Pasca Sarjana LTBI Unika Atmajaya
Buku Kedua Marissa Haque, "Bahasa Kasih", Alumni Pasca Sarjana LTBI Unika Atmajaya

Karya Buku Marissa Grace Haque Fawzi ke 2, "Bahasa Kasih"

Karya Buku Marissa Grace Haque Fawzi ke 2, "Bahasa Kasih"
Speech Therapist untuk Deaf and Mute Children, Karya Buku Marissa Grace Haque Fawzi ke 2, "Bahasa Kasih"

kampus riset marissa grace haque fawzi

kampus riset marissa grace haque fawzi
kampus riset marissa grace haque fawzi

marissa haque alumni fkip linguistik bahasa inggris unika atmajaya, jakarta

marissa haque alumni fkip linguistik bahasa inggris unika atmajaya, jakarta
marissa haque alumni fkip linguistik bahasa inggris unika atmajaya, jakarta

Ikang Fawzi dan Marissa Haque, UI dan Usakti plus Unika Atmajaya, 2001

Ikang Fawzi dan Marissa Haque, UI dan Usakti plus Unika Atmajaya, 2001
Ikang Fawzi dan Marissa Haque, UI dan Usakti plus Unika Atmajaya, 2001

Sabtu, 12 Januari 2013

Bintik Matahari Raksasa Melepaskan Lidah Api Yang Kuat: (dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi)



Pandangan suar matahari pada 11 Januari 2013 yang direkam oleh NASA's Solar Dynamics Observatory.


Astronesia-Permukaan matahari meletus dan membuat solar flare pada hari jumat 11 januari,melepaskan ledakan plasma super panas ke ruang angkasa.

Sebuah bintik besar matahari yang dikenal sebagai AR1654 menghasilkan flare kelas M1 pada pukul 4:11 am EST (0911 GMT),kata ilmuwan dari NASA's Solar Dynamics Observatory.Pesawat ruang angkasa SDO adalah salah satu dari beberapa teleskop luar angkasa yang bertugas memantau aktivitas pada matahari.

Menurut Spaceweather.com, sunspot AR1654 tumbuh lebih aktif dan sekarang "Membentuk jilatan matahari dengan kelas M1" seperti yang meletus kemarin (11 Jan).

"AR1654 yang semakin besar ternyata menuju ke arah Bumi," lapor situs web."Tidak hanya kesempatan meningkatkan flare , tetapi juga kemungkinan letusan diarahkan ke Bumi.Ini bisa menjadi bintik matahari yang mengganggu cuaca tenang disekitar planet kita.

Matahari saat ini berada dalam fase aktif siklus 11 tahunnya ,para ilmuwan menyebutnya Solar Cycle 24.Siklus aktivitas matahari yang diperkirakan akan mencapai puncaknya (solar maksimum) pada tahun 2013,kata para ilmuwan.

http://astronesia.blogspot.com/
Gambar menunjukkan daerah aktif matahari AR1654 (ditandai) dibandingkan dengan ukuran Bumi dan Jupiter.Gambar ini di terbitkan oleh ilmuwan NASA Solar Dynamics Observatory pada tanggal 9 Januari 2013.

Lidah api matahari yang paling kuat,flare kelas X  memiliki efek paling signifikan terhadap Bumi.Mereka dapat menyebabkan badai radiasi yang tahan lama di atas atmosfer planet kita dan pemadaman radio.

Kelas flare Medium (M) dapat menyebabkan pemadaman radio singkat di daerah kutub dan sesekali badai radiasi kecil.Kelas C flare yang terlemah dari sistem klasifikasi ilmuwan dan memiliki konsekuensi terlihat sedikit.

Sumber: Space.com 



Bintik Matahari Raksasa Melepaskan Lidah Api Yang Kuat: 
(dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi)

Rabu, 29 Agustus 2012

Ikang Fawzi: Dua jam membaca (untuk Marissa Haque)

Ikang Fawzi: Dua jam membaca

Oleh Rahmayulis Saleh
Ikang Fauzi (antara)
Sumber: http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/ikang-fawzi-dua-jam-membaca

Musisi dan penyanyi rock Indonesia ini sejak kecil sudah akrab dengan buku. Sebagai anak seorang  diplomat yang sering mengikuti tugas ayahnya di beberapa negara, Ahmad Zulfikar Fawzi atau lebih dikenal dengan nama Ikang Fawzi, menjadikan buku dan berkesenian sebagai pengisi waktu luangnya selain belajar.

Laki-laki kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959, ini menghabiskan masa kecilnya di luar negeri. Dia menjalani sekolah taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar di Belgia dan Jepang, mengikuti ayahnya Fawzi Abdulrani, yang waktu itu menjadi diplomat.

Kebiasaannya membaca buku sejak kecil itu, menurut Ikang, telah membuka dan menambah wawasannya. Dan kegiatan itu terus berlanjut hingga sekarang sampai dia sudah menikah dengan artis Marissa Grace Haque, dan memiliki dua putrid yang sudah beranjak dewasa.

“Setiap hari saya terbiasa membaca sampai dua jam, waktunya bisa kapan saja. Saat ini yang banyak saya baca buku-buku tentang ekonomi dan gaya hidup,” ungkap Penyanyi Rock Terbaik versi Majalah Gadis pada 1986 ini.

Menurut Ikang, hobinya membaca tersebut juga diikuti oleh isterinya dan kedua anaknya. Di rumahnya saat tersedia dua buah perpustakaan, dengan ribuan judul buku.

“Isinya macam-macam sesuai dengan bacaan kesenangan masing-masing keluarga. Untuk saya lebih suka baca masalah ekonomi,” ujar Duta On Clinic ini di Jakarta beberapa waktu lalu di sela-sela seminar yang diadakan On Clinic.

Selain membaca, ternyata sejak kecil Ikang juga suka berkesenian. Darah seni mengalir dari ayahnya, yang dulu pemain Hawaiian, pencipta lagu, dan penyanyi. Ayahnya selalu mendorong Ikang untuk berkesenian, dan  saat berusia 10 tahun, dia dimasukkan ke Yamaha Musik di Jepang untuk kursus privat electone dan drum.

Ikang juga dimasukkan ke klub belajar beladiri. Saat di Jepang dia belajar karate. Setelah kembali ke Indonesia, dia menekuni pencak silat. Tak heran walau sudah berusia di atas 50 tahun, tubuhnya masih tetap energik dan bugar.

Menurut Ikang yang juga pengusaha properti ini, memperhatikan gaya hidup menjadi sangat penting, terutama dalam mejalani pola hidup sehat, dan selalu berupaya melakukan hal-hal yang positif.

Setiap hari dia berusaha menghindari makanan yang banyak lemak, dan berenang di rumahnya dua hari sekali, masing-masing satu jam. “Dulu saya juga olahraga barbel, tapi di usia sekarang ini paling cocok bagi saya adalah berenang, mengonsumsi makana sehat, dan baca buku, serta bermusik,” ungkap Ikang yang alumni master MBA (S2) di UGM  Yogyakarta ini. (MSU)

Senin, 27 Agustus 2012

Marissa Haque Fawzi: "Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge"

Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge
 
World Paper, New York, USA
June, 2001


By. Marissa Haque Fawzi
An Indonesia Actress, is in Residence at Ohio University

 

Indonesia as a country among many countries in the world, cannot escape of the effect of globalization. More specially, the Indonesia film industry is influenced and shaped by the cultures and trends of many other nations. This assimilation necessary and positive for progress and increased quality as long as an individual maintains his/ her own touch, so to speak. This process is guaranteed by the fact that our world grows smaller everyday and the boundaries that once existed are no more.

The father of Indonesia film, Mr. Haji Usmar Ismail, was the first Indonesia artist to graduate from the School of Film at the University of California Los Angles as early as the 1940s. Generations to follow in the 1970’s were strongly predisposed to Russian production style and technique with Indonesian graduate from Moscow University such as Syumandjaja and Amy Priono.

Many artists to follow, Producers and Directors are products of Indonesia education and training. Their work, also distinguished, is colored by local wit and wisdom. A result of their efforts has been “Edutainment” or educational entertainment for the Indonesian citizen.

The only trouble with this is seen in the extremely small ratio of these artists in relation to the population of Indonesia, which far exceeds 200 million. If the love of money is the root of all evil it has also been the demise of the film industry in Indonesia. Many Directors viewed the production of movies as a monetary printing press.

The typical Indonesian film left nothing for the viewing public; there was no moral message and no real meaning. By the end of 1980s the film industry has stagnated and come to screeching halt. The Indonesia government further stifled the industry’s creativity and quality, and the differences from one film to the next became almost impossible to discern. It was a frustrating time for the movie-going public and even exasperating for those production teams that sought to create.

In 1990s gave us Garin Nugroho. As a young man, he graduated from University of Indonesia with a degree in Law and attended Indonesia’s Institut Kesenian Jakarta (Indonesian Art Institute). Garin Nugroho was determined to create new standard, and in the mid-1990s he began work. Nugroho presented an Eastern European style of production. Many Indonesian viewers did not understand this style of production and found the storylines difficult to follow, but his works have been honored (and have placed) at almost every international film festivals in which those have appeared.

Toward the end of 1999, a group of young Indonesian film graduates that, to date, do not wish to be identified with other movie production teams, came together to produce. They represent the new techno generation, seeking something new and different from all who came before them, and it is known to Indonesians today as the movie Kuldesak. This independent production team used a grassroots style marketing strategy throughout production. The film smacks of Quentin Tarantino. The theme song from thia movie was also honored by MTV at the MTV awards 2000 in New York.

The year 2000 was phenomenon for Rivai Riza (Film Director), Mira Lesmana and Triawan Munaf (Co Producers) with their award-winning production Petualangan Sherina or the Adventures of Sherina. The British honored this production with the presentation of the British Chavening Award Scholarship to Riza. This is only logical because Riza finished his Master of Arts in screenwriting at a British Institution in 1999. Riza ia rich with British style.

What do we see in the future of the Indonesian film industry? What style do we hope will prevail? There are so many possibilities, but that which cannot be denied and is clear to even those who would close their eyes is that American films are shown on every channel of Indonesian television and fill Indonesian theatres. In this lies an undeniable answer.

We are also aware that American film is a collection of assimilations from across the world. Thus we come full circle of globalization and interdependent world in which we live. We will, each and every one of us, learn from all of those around us without exception, if we hope to progress. This is a continual process that will go on for as long as we breathe.
Marissa Haque Fawzi: "Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge"


Senin, 12 September 2011

Contoh Graduation Speech by Rangga Almahendra (Suami Hanum Rais), Friday, March 18, 2011

Friday, March 18, 2011


Graduation Speech by my husband

Sumber: http://hanumrais.blogspot.com/  

Thank you so much; it is really a tremendous honor for me to stand before you, all the distinguished ladies and gentlemen. Allow me to extend my warm greeting to the rector council, professors and all faculty members of WU, His excellency Indonesian ambassador to Austria, family, friends, guests, and of course the very reason of our presence today: the fellow doctoral graduates of March 2011.

Dear my fellow graduates,
I know we are here to celebrate our achievement for our doctoral degree, but let’s take a moment for a while to thank the unspoken heroes of today: our families, parents, husband or wife, brothers or sisters. These are the people who always believe in us, people who are willing to listen to all our problems, our complaints and difficulties. These people are our family whose love and care always encourage us in each and every day. I believe today is not only our own day. This day is theirs too…

So let’s give our warm applause to all of our families.
Unfortunately, my parents aren’t able to come here, as for myself, the journey for being here is much more than taking 10.000 kilometers flight across three great oceans. I remember 3.5 years ago, when I stepped in to this building, I was haunted with deep anxiety and uncertainty. I knew that I have to cope with different languages, different food, different people with different values and different way of thinking. At that time, I wasn’t sure if I could survive another 3 or 4 years to come to finish my PhD.

But today, I must appreciate the tireless effort from all employees and faculty members at WU who helped me throughout the difficult process. Thanks to the commitment from the rector council for increasing the internationality of this university. The number of international students, international partners, and international faculty members are increasing year by year. The ratio of the international faculty will reach to 30 %, and the number of international students has passed to a quarter, which means that every fourth student you meet here is from abroad.

During my study here, I also witness a great transformation of this university. This institution has transformed from a Viennese college of economic and business administration, Wirtschaftsuniversität Wien, into a World-class University, abbreviated as W-U.

So I think we are here today, not only to celebrate our achievement for winning a PhD, but also to sustain an example of the possible success of world class school which holds the spirit of professionalism and equality. Here, we’re showing to break free the tiring debate about race, religion, ethnicity and gender that dominates our politics and newspaper in the last decade.

I’m coming from a third world country called Indonesia. I was born in a very small village, which was no electricity and running clean water; more than half of the people in the village earn less than 1 euro per day. My parents are only medium class civil servants, who never even dared to dream sending their son to study abroad. It’s finally Professor Wolfgang Obenaus who convinced me to come to this prestigious university, in the heart of Europe, using the scholarship from the Austrian government for third world countries.

I am also glad that finally I am allowed to wear ‘Batik’, our traditional clothes today, as I always believe that the graduation committee will embrace diversity. Because they also hold the value of our university, that the single most important factor determining people achievement is not the color of their skin, the religion of their life, it is not who their parents are, or how much money they have. I believe the promise of the education system here. No matter how we look like, whatever our nationality is, or our religion, each of us, should have the chance to achieve our dream, to enjoy the same opportunity.

Dear fellow graduates,
We know that we’re living in a global era. It’s the time where people in Vienna are also competing with people in Shanghai or Mumbai, India. Jobs can be located anywhere in this planet. It’s finally our skill and knowledge that become our global passport. The most valuable things you can sell are skill and knowledge.

Living in this globalization era should make us aware that we are breathing in the same global village. In this village, every belief and value can be found. Insignificant differences can spark into conflict, chaos even war. But I’m sure that everybody in this room won’t let this happen. Because, despite these differences, we share the same hope, same belief that we are connected together as brother and sister from the past.

Driven by this belief, I am also calling on you to be an agent of transformation, who always seeks to make this world a better place to live, a safer place for diversity; as being shown by the great transformation of this university.
Within these few weeks I am flying back to Indonesia…

I’m a Moslem and I will speak loud and clear to the people in my country that I am proud to be part of this great European education institution; where I do not learn about business and economics only, but also about tolerance and respecting each other.

Sooner or later you will also make your own journey. For some of you, the journey ahead will not be easy. But the truth is that none of us knows how the future will look like. What I can tell you for sure is that the future is not someplace we will discover, but rather something we will create.

I believe that we can survive anywhere in this world, because we are the graduates of WU. We were trained with high international standard, by global-minded faculties which hold the spirit of professionalism and tolerance.

Today, we are all proud to receive our doctorate certificate, a reward for our effort that we will treasure for the rest of our life.
But as a famous saying says: the greatest treasures are not those visible to the eye but found by the heart. Knowledge and happiness are the true treasure for a wise man; indeed, tolerance is the real treasure for humanity.

It is my sincere hope that your next journey will take you to the summit of your hope, to the highest peak of your happiness, to the ultimate blessing for humanity.

Again congratulation, have a pleasant journey, and may God always be with us
Thank you.


Vienna, 11th March 2011
Rangga Almahendra

"Contoh Graduation Speech by Rangga Almahendra (Suami Hanum Rais), Friday, March 18, 2011"

Kamis, 09 Juni 2011

Like Water that Flows Constantly : Marissa Haque Fawzi



Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)
Bintaro, Jakarta, February 21, 2004

 
Water is the source of life

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.
If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.
According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.

In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

Sumber: http://musik-melodi-syair.blogspot.com/

Dalam: "Like Water that Flows Constantly : Marissa Haque Fawzi"

Budaya Menulis Alumni Unika Atmajaya Jakarta: Marissa Haque Fawzi

Baru kusadari beberapa hari terakhir ini ketika seorang teman yang dekat di hatiku dari FH UGM bertanya: "Mbak Icha sayang...keliahtannya para alum ni dari Unika Atmajaya Jakarta itu punya ciri yang sama deh yaitu suka menulis!" Hhmmm...iya juga ya?


Namun saya menyukai dunia tulis-menulis jauh sebelum menapaki kaki mengambil S2 ku yang pertama di kampus ini. Tapi....memang, setelah gabung dalam pembelajaran di kampus ini kemampuan dan kesenanganku menulis menjadi semakin terasah. Khususnya karena Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan di sini terkenal salah satu yang terbaik di Indonesia, sayapun mengambil S2 dari jurusan LTBI singkatan dari Linguistik Terapan Bahasa Inggris.


Ta hanya diriku Dari LTBI, ternyata adik kelasku dari FE (Fakultas Ekonomi) bernama Angelina Sondakh jua sangat produksitf sekarang dalam dunia penulisa buku. Memang banyak yang memcingkan mata ketika tulisannya melulu soal keluarga dan dirinya. Tapi saya pikir mereka yang sinis itu hanya iri kepada Angie yang cerdas serta produktif! Iri pertanda tak mampu...hehe...karena kalau mereka iri sebenarnya jawabannya hanya satu yaitu "menulis juga dong!" Beradu karya melalui budaya menulis pasti akan positif. Daya nalar serta kreasi sportif pasti akan mengemuka, dan dampaknya akan menepis hal negatif lainnya.

Sehingga tanpa ragu-ragu saya berani mengajak anda semua untuk bergabung bersama dalam dunia positif yang saya sekeluarga sukai, yaitu: "Ayo Memulis!"

Sumber: http://marissahaque-sdalh.blogdetik.com


"Budaya Menulis Alumni Unika Atmajaya Jakarta: Marissa Haque Fawzi"

Senin, 28 Maret 2011

Marissa Haque: "Proses Kreatif Lagu & Syair Ikang Fawzi"

Alhamdulillah Karya Buku Ketigaku Hampir Rampung: Marissa Haque Fawzi


“Musik, Film, Sastra, dan Linguistik”

Banyak teman infotainment menanyakan kepada kami berdua, seperti apa sih macam atau bentuk manajemen keluarga kami? Maka… inilah salah satu jawaban ata pertanyaan tersebut diatas, bahwa dunia asli keluarga Ikang Fawzi dan Marissa Haque yang juga diisi oleh Isabella Fawzi & Chikita Fawzi adalah: (1) musik; (2) film; (3) sastra; dan (4) linguistik.


Sebagai penulis memang saya belum terlalu produktif–tentu dengan catatan penulisan ilmiah akademik saya sangat banyak. Baru terbilang dua buku saya hasilkan di dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini, yaitu: (1) Aminah; dan (2) Bahasa Kasih.

Buku pertama adala buku anak-anak dan lingkungan hidup terkait pencemaran lingkungan, berbahasa Inggris dan Indonesia (bilingual). Sementara buku kedua adalah transliterasi dari thesis S2-ku yang pertama dari Pasca Sarjana Unika Atmajaya jurusan LTBI (Linguistik Terapan Bahasa Inggris), tentang pengajaran Bahasa Inggris bagi anak-anak tunarungu (ASL atau American Sign Language).

Kehidupan keluarga kami memang dikelilingi oleh buku-buku, kliping, musik, dan film. Maka dalam waku dekat ini, insya Allah saya diberi energi oleh Allah Azza wa Jalla untuk merampungkan buku ketigaku berjudul: “Proses Kreatif Lagu & Syair Ikang Fawzi.”

Metode yang kupakai sejenis in-depth interview, sangat enak karena data primer-nya adalah suami sendiri. Bisa kuwawancara sembari tiduran, pakai kimono tidur, di meja makan, bahkan… di kamar mandi…hehe…

Sumber: http://ikangfawzi-musik-medan.blogspot.c…

Lagu "Randy & CIndy" Ciptaan Ayah Ikang-ku untuk 2 Keponakannya Terkasih Kak Randy dan Kak Cindy(1) Lagu “Randy & Cindy” Ciptaan Ikang-ku untuk 2 Keponakannya Terkasih Randy dan Cindy (anak dari Kak Uttie Tangkau-Fawzi & Kak Rex Tangkau)

The Women of School of Communications (Ibu Icha, Aku, dan Kiki adikku) (2) Women of School of Communications (Women of Isabella Fawzi’s Heart: Marissa Haque and Chikita Fawzi, 2009), ILUNI dari FIB UI (Fakulas Ilmu Budaya jurusan Sastra Inggris, Universitas Indonesia)

Selasa, 14 Desember 2010

Menemani Marissa Haque yang MHum dari Unika Atmajaya, Ikang Fawzi MBA dari UGM


Ikang Fawzi (Foto:Arie Yudhistira/Koran SI)
JAKARTA - Ikang Fawzi tengah bergembira. Jerih payahnya kuliah selama 1,5 tahun berbuah manis. Suami Marissa Haque ini meraih gelar MBA dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Saya senang sekali akhirnya bisa dapat gelar. Saya kuliah selama 1,5 tahun. Selesainya bisa cepat karena saya serius sekali," ungkap Ikang yang dihubungi okezone, Selasa (14/12/2010).

Rocker kelahiran 23 Oktober 1959 itu mengambil judul tesis Analisa Strategi Bisnis Properti-tainment di Salah Satu Industri Bisnis Properti (studi pada PT Impian Jaya Ancol). Dia membuat tesis dengan judul demikian dengan alasan tersendiri.

"Saya pikir bisnis ini kan yang penting bisa berkelanjutan. Banyak yang berbisnis, tapi kemudian hilang. Kalau Ancol ini pernah diterpa krisis ekonomi 1998 dan 2008, tapi bisa bertahan karena dia menggunakan properti-tainment. Jadi entertainment itu untuk mempercepat recover industri properti yang sedang lesu," bebernya.

Berkat keseriusan dalam menggarap tesis setebal 300 halaman, ayah dua anak ini mendapat nilai sempurna, A. "Secara ilmiah itu memang bidang saya. Intinya, di situ saya gunakan ilmu yang saya punya. Jadi saya lama di entertain, kemudian ingin saya ilmiahkan," urainya.

Disinggung tentang kegiatan sang istri yang giat menimba ilmu, Ikang memberikan pujian.

"Wah, kalau dia sih gila sekolah. Kalau saya enggak seperti dia yang sekolah terus kayak sudah jadi makanan sehari-hari. Mungkin kalau dia di UGM mengambil dua gelar sekaligus, MBA dan hukum (MA)," katanya.(ang)

Selasa, 07 Desember 2010

Pengalaman Riset Bahasa Kasih, Ide untuk Manajemen Sabar Rumah Tanggaku: Marissa Haque Fawzi

Karya Buku Marissa Grace Haque Fawzi ke 2, "Bahasa Kasih"

Manajemen rumah tangga tenang walau dalam situasi badai sekalipun, saya dapatkan idenya kala meriset thesis S2-ku yang pertaman dari Pasca Sarjana Unika Atmajaya beberapa tahun silam.

Terimakasih banyak Unika Atmajaya...

Senin, 29 November 2010

Ketelanjangan dalam Norma Kehidupan Tidak Layak Jadi Konsumsi Umum: Pelajaran Etika & Norma Serapan dari Unika Atmajaya (dalam Marissa Haque)

Alhamdulillah kami berdua Marissa Haque & Ikang Fawzi setuju dengan berita di:

Republika OnLine » Breaking News »

Nasional Imigrasi Harus Cegah Masuknya Bintang Porno ke Indonesia

Senin, 29 November 2010, 21:54 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,

JAKARTA--Anggota Komisi III DPR RI, Bambang Susatyo, minta pihak imigrasi memperketat aturan mengenai pekerja seni asing terutama bintang film porno yang bermain di Indonesia.

“ Jangan sampai pemain yang datang dengan visa tidak jelas, bahkan wisata bisa masuk ke Indonesia, apalagi bintang porno” ujarnya pada Republika melalui telepon, Senin (29/11).

Ia mengaku aturan ini sebenarnya sudah sangat jelas di Indonesia. “ Kita harus periksa terlebih dahulu kelengkapan surat dan administrasinya. Kalau tidak sesuai ya harus dilarang,” tegasnya.

Kamis, 25 November 2010

Seharusnya Timses Airin Rachmi Diany di Tangsel Belajar Etika di Unika Atmajaya: Marissa Haque fawzi

andre-taulany-stinky
Jumat 19 November 2010

Pemilukada Tangsel Kental dengan Pelanggaran dan Kecurangan

TANGSEL - Koordinator Lembaga Kajian dan Analisa Daerah Terpadu, Ade Yunus, memprediksi kalau pemilihan walikota dan wakil walikota Tangerang Selatan akan berujung seperti yang terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Proses pemilihan akan diulang karena indikasi pelanggaran maupun kecurangan sangat kentara.

"Berbagai pelanggaran tersebut memiliki persamaan dengan pelanggaran yang terjadi dalam Pilkada Pandeglang. Mahkamah Konsitusi menyatakan pilkada di daerah tersebut harus diulang secara keseluruhan," tutur Ade, Kamis (18/11).

Pengamat dari Universitas Muhammadiyah Jakarta itu mengatakan, indikasi pelanggaran maupun kecurangan yang terjadi dalam proses pemilihan di Tangerang Selatan Sabtu lalu dilakukan secara terstruktur, sistemik dan massif. Berdasarkan data yang dihimpun LKADT, berbagai kecurangan tersebut diantaranya berupa penggelembungan suara, pengerahan birokrasi, dan politik uang.

Indikasi penggelembungan suara dilakukan lewat perumusan daftar pemilih tetap. "Surat undangan memilih palsu dibuat agar pemilih palsu hadir di TPS," jelas Ade.

Sedang tim pemenangan pasangan Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie, pasangan yang Rabu malam lalu ditetapkan sebagai pemenang, Ade menuding, melibatkan birokrasi dalam program kerjanya. "Tiga hal ini (mark up jumlah suara, pengerahan birokrasi dan politik uang) menjadi kekuatan kubu pasangan Arsyid-Andre Taulany untuk memenangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi," katanya. (ti/isan)

Sumber: http://www.bantenpost.com/berita.php?berita=BU/BNTP/11/10/1316

Senin, 01 November 2010

"AMINAH" Buku Karya Pertamaku: Marissa Haque Fawzi


"Aminah"

Oleh: Marissa Haque Fawzi
 
Diterbitkan oleh PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999

Aminah adalah seorang gadis kecil berjilbab. Ia hidup didaerah kumuh yang berdebu ditepi pantai Sampur, Jakarta.

Rumah-rumah disana terbuat dari papan dan kardus bekas. Sampah menggunung. Kaleng-kaleng bekas yang sudah berkarat bertebaran disana-sini. Dicelah-celah jendela, jemuran-jemuran bergantungan menunggu kering. Sebagian lagi bergantungan diatas tali-tali yang terbentang.

aminah-kaya-marissa-haque-yg-pertama-1999.jpgAminah tinggal bersama ibunya. Setiap hari setelah selesai sholat Subuh, mereka menerima cucian yang dititipkan oleh keluarga-keluarga kaya dari luar lingkungan mereka. 

Sehabis menjemur semua pakaian tersebut, Aminah pergi bermain-main kepantai didekat rumahnya. Biasanya ia bermain diantara karang-karang diatas pasir. Terkadang beberpa anak kecil lainnya bermain bersamanya. Pada kesempatan lain, ia lebih suka sendirian. Berdiam diri memandang gelombang pasang yang berkejaran menerpa karang. Dibiarkannya desir angin memainkan ujung-ujung jilbabnya.

Malam harinya Aminah berjualan kembang. Aminah mengelompokkan kembang tersebut sesuai warnanya; mulai dari warna merah muda, jingga, putih, dan ungu. Bersama Halimah sahabatnya mereka menjual bunga-bunga tersebut dijalan dekat lampu merah. Disana banyak anak-anak sebayanya bermain-main.

Malam itu tak ada bulan. Bintangpun enggan menampakka dirinya. Langit hitam pekat tertutup awan. Walaupun malam terasa panas, kedua anak itu menggigil kedinginan sampai ketulang sumsum.
Aminah dan Halimah berjalan menjajakan kembangnya. Mereka sampai disebuah jalan yang penuh dengan lampu beraneka warna. Hingar bingar kendaraan bermotor dan orang-orang yang berlalu lalang.

Tercium bau garam laut bercampur bau polusi yang berasal dari knalpot kendaraan-kendaraan bermotor yang bunyinya memekakkan telinga.

Aminah dan Halimah berjalan dianata mobil-mobil. Menawarkan kembang kepada para pengendara. Ketika bunyi klakson nyaring menyentak, Aminah dan Halimah buru-buru menyingkir.

Seorang wanita tertarik membeli lima tangkai kembang. Aminah dan Halimah tidak dapat menatap wajahnya, karena hanya tangannya saja yang terjulur keluar melalui celah jendela mobil. Wanita itu memberikan uang lima ribu rupiah.

Ketika lampu berubah warna menjadi hijau, mereka berdua kembali duduk sambil menatap kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Lampu-lampu jalan yang bersinar sangat terang, membuat bayangan pohon disekitarnya menjadi semakin dalam. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Udara makin dingin. Malam semakin larut.

Tiba-tiba terdengar bunyi tangisan keras yang menimpali bunyi kendaraan yang berlalu lalang. Aminah tahu siapa yang menangis. Segera didatanginya suara itu.

Seorang anak lelaki menggeliat diatas pangkuan ibunya. Sang ibu menepuk-nepuk punggung sang bocah sambil bersenandung lirih sampai sang bocah tertidur.

Aminah melihat kacang rebus jualan si ibu masih menggunung, belum laku. Ah, kasihan sekali. “Apa khabar Aminah? Banyak laku jualanmu?”, sapa ibu penjual kacang rebus itu. Namanya Ibu Rimpi. “Baru sedikit,” jawab Aminah.

“Anakku ini menangis terus sepanjang hari. Tapi kami tak dapat pulang dulu krtumah kalau belum dapat uang. Lihat jualanku hari ini masih sangat banyak tersisa.” Senyum ibu Rimpi terlihat sangat getir sembari menatap wajah-wajah cilik dihadapannya yang manis, jujur, dan polos serta mempunyai kulit yang halus, mata yang bening, dan senyum yang tanpa beban.

Tiba-tiba anak lelakinya menangis lagi. Maka tahulah Aminah dan Halimah bahwa anak lelaki tersebut kelaparan dan kedinginan.

Dengan uang lima ribu rupiah hasil penjualan mereka malam itu, Aminah dan Halimah bergegas membeli makanan dan minuman hangat di sebuah warung dipinggir jalan dekat tempat mereka mangkal. Uang sebanyak itu cukup untuk membeli empat gelas teh manis dan lima potong pisang rebus. “Ah, betapa mahalnya harga makana sekarang ini,” gumam Aminah.

Aminah dan Halimah membawakan makanan dan minuman itu ketempat Ibu Rimpi dan anakknya. Mereka berempat melahapnya dengan nikmat.

Tiba-tiba Aminah merasakan perutnya sakit bukan alang kepalang. “Ya Allah…apa yang terjadi dengan diriku ini?”, gumamnya. Halimah, Ibu Rimpi dan anak lelakinyapun terlihat kesakitan. Mereka semua limbung dan jatuh ketanah.

Tiba-tiba dunia terasa semakin kelam dari malam sesungguhnya. Aminah tak mampu lagi bernafas. Namun ia masih berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dalam lemahnya ia berdoa: “La ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin.” Yang artinya ‘Maha suci Engkau, Maha Mulia Engkau, hamba ini seorang aniaya’ (doa Nabi Yunus ketika diperut ikan Paus). Tidak ada tempat lain untuk berlindung serta memohon pertolongan kecuali kepada-Nya.

Aminah keracunan makanan. Semua terjadi akibat pabrik-pabrik yang tak bertanggung jawab membuang limbah di Teluk Jakarta, dilokasi Aminah didaerah Sampur. Lalat-lalat berterbangan diparit-parit dan jamban-jamban dekat rumahnya. Menghinggapi makanan dan minuman yang dibelinya, meninggalkan racun dan kotorannya disana.

 
Tiba-tiba tercium bau semerbak, wangi sekali. Langit kelam tiba-tiba menjadi terang. “Apa yang terjadi? Dimanakah aku?” Aminah kebingungan. “Apa yang harus aku lakukan?”

Desir ombak terdengar. Semakin lama semakin keras. Kaki-kaki mungil Aminah serasa menginjak air laut ditepi pantai. Anginpun seakan membisikkan sesuatu ditelinganya.


Aminahpun teringat akan kembang yang masih digenggamnya. Dipandanginya sesaat, sampai tiba-tiba terbersit sesuatu didalam pikirannya. Dilemparkannya kembang-kembang itu dilangit.

Langit pekat berganti terang, cahaya putih bersinar, membuat bintang-bintang tampak terang benderang. Aminah melihat orang-orang berhenti bercakap-cakap. Tak ada lagi deru kendaraan yang membisingkan. Wajah orang-orang terlihat bersih dan bersinar, menebar senyum dimana-mana. Betapa tenteram, betapa indah.

Perlahan Aminah berjalan meyusuri tepian pantai, pulang kerumah. Sendirian, terlepas dari kerumunan orang banyak. Mengikuti arah sinar, nun didepan sana. Samar-samar terlihat bayangan ayahnya. Tapi Aminah merasa tak pasti. Ia terus membaca shalawat. Mengayuhkan kaki kecilnya, ia ingin menemui ibunya dirumah.

Aminah terus berjalan dibawah kaki langit yang penuh rahasia. Ditatapnya taburan cahaya yang bersinar. Bintang-bintang nun jauh disana adalah miliknya.

***

Resensi: "AMINAH" (Gadis Kecil di Tepi Pantai)

Pendidikan Moral dan Lingkungan untuk Anak dalam Dua Bahasa, Penerbit Rosda Karya Bandung




Marissa Haque Fawzi, ibu dua remaja puteri dan istri dari Ikang Fawzi (penyanyi rock) merupakan artis berintelektual tinggi. Selain menempuh program S2 ia akan melanjutkan studinya di Inggris. Ia sangat mencintai anak-anak dan dunia pendidikan sebagaimana ia mencintai dunia seni dan sastra. 

Marissa Haque Fawzi sangat profesional dalam berbagai bidang , bintang film dan sinetron, model iklan, pembicara dan moderator pada berbagai seminar dan presenter acar televisi. Buku pertamanya “Aminah” yang imajinatif ini berisi pengetahuan lingkungan, dipersembahkan untuk orang-orang yang dicintainya.
Dari cover “Aminah” yang menarik, pembaca tidak akan mengetahui bahwa pemaparan cerita menggunakan dua bahasa yakni Inggris dan Indonesia. “Aminah” merupakan cerita yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak-anak siswa SD dan SMP. Perlu bantuan orang dewasa untuk membacakan teks yang berbahasa Inggris bagi anak yang belum mengerti bahasa Inggris.

Alkisah seorang gadis kecil berjilbab yang hidup di daerah kumuh. Ia harus harus mencari nafkah dengan membantu ibunya mencucikan pakaian orang kaya di pagi hari. Petang hari bersama teman sebayanya ia berjualan kembang di perempatan jalan. Pada suatu petang ia bersama sahabatnya membelikan makanan untuk dinikmati bersama seorang ibu dan anaknya yang menangis karena lapar. Sayang sekali makanan tersebut tercemar, sehingga mereka tak sadarkan diri.
Cerita yang sederhana, indah dan menyentuh kalbu. Walaupun pembaca tidak mengetahui berapa usia Aminah dan apakah is bersekolah atau tidak, tetapi pembaca dapat menyimpulkan bahwa Aminah adalah seorang gadis kecil yang cukup cerdas dan berbudi luhur. Buku ini bermuatan nilai keimanan dan pengetahuan lingkungan.


*Buku cerita “Aminah” merupakan Seri Bakti Pendidikan Artis. Lima cerita lainnya dikarang oleh Soraya Haque Soekarno, Trie Utami dan Andi Alta Amier, Vinny Alvionita dan Monica Oemardi, Gito Rolies, serta Dwiki Darmawan dan Ita Purnamasari. Selain sarat dengan nilai kebajikan buku ini dapat mendorong pembaca untuk berbahasa Indonesia dan Inggris dengan baik dan benar.

Rabu, 27 Oktober 2010

Bahas Kasih dalam Keluarga Kami Alhamdulillah Menghasilkan Dua Gadis Cantik Kreatif: Marissa Haque & Ikang Fawzi

"DAMAI YUK": Marsha Chikita Fawzi (MMU/Malaysian Multimedia University)

Film Upin-Ipin
Putri indonesia yang menjadi Animator Film Upin-Ipin namanya Marsha Chikita, Putri Ikang Fawzi , kiki panggilan akrab anak ikang fauzi ini saat memulai Karirnya saat ikut program magang di perusahaan di Las’ Copaque Production (rumah produksi yang membuat film animasi Upin-Ipin). Sejak awal 2010, dia diterima di sana . Bahkan, dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut. Dia terjun langsung ikut membuat animasi film anak-anak yang banyak digemari di Indonesia itu.


Meski magang, Kiki sudah dibayar RM 500 (ringgit Malaysia) atau Rp 1.400.000 (kurs 1 RM = Rp 2.800) per bulan. Lantaran pekerjaannya dinilai istimewa, Kiki akhirnya diterima sebagai karyawan dengan gaji lebih besar. Namun, mulai September ini, dia harus mengambil cuti untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.

Di rumah produksi tersebut, Kiki mengaku belajar banyak tentang 3D modeller dan setting and background modeller, tapi akhirnya lebih sreg menjadi animator untuk film Upin-Ipin. Animator itu menganimasi setiap shoot adegan. Misalnya, saat Upin berjalan, kakinya dianimasi agar gerakannya pas. Terus, eye blinking, lipsing, dan sebagainya. “Karena itu, seorang animator suka ngaca sendiri sambil ngomong supaya tahu ekspresinya saat membuat animasi,” paparnya.

Ada 20 animator di rumah produksi itu dan Kiki adalah satu-satunya dari Indonesia. Saat ini, meski sedang cuti, dia mendapat tugas untuk ikut mempersiapkan Upin-Ipin ke layar lebar. Kiki-lah yang memberikan sentuhan Indonesia dalam film dua anak kampung Malaysia itu.

Misalnya, lewat tokoh Shanty, teman Upin dari Jakarta. Agar benar-benar Indonesia, Kiki memberikan banyak polesan pada tokoh Shanty.

“Director dan script writer suka mengajak saya untuk membantu. Misalnya, di Malaysia kan tidak dikenal kupu-kupu, tapi rama-rama. Terus, kata “senang” di sana berarti mudah. Kalau di sini, artinya gembira,” tuturnya.

Pada kesempatan lain, seperti dalam episode Berkelah atau Piknik, Kiki memasukkan unsur-unsur Indonesia untuk menyesuaikan dengan tokoh Shanty yang asli Indonesia. Misalnya, membuat animasi kue bakpia, semprong, dan keripik ceker ayam. “Supaya lebih kaya kulturnya. Dan mereka suka,” ucapnya bangga.
bukan saja sebagai animator upin dan ipin ini saja, ternyata Marsha Chikita Fawzi yang tak lain adalah putri pasangan selebriti Ikang Fawzi dan Marissa Haque penggagas Unyil dan Upin bersalaman di dunia maya sebagai ikon kampanye “Damai Yuk” untuk Indonesia-Malaysia yang di posting di akun twitter dan facebooknya. 

Sabtu, 16 Oktober 2010

Pendidikan Damai dalam Bahasa Kasih oleh Chikita Fawzi Bungsuku: Marissa Haque

Catatan Chikita Fawzi yang saat balita sering menemani ibunya diruang kuliah FKIP Pasca Sarjana Bahasa Inggris Unversitas Katolik Atmajaya, Jakarta.

Kiki-ku sedang Belajar Tak Langsung Pendidikan Diplomasi & Bahasa Inggris dengan Pendekatan Internasional melalui Gerakan Damai dari Cyberjaya, Malaysia (MMU/Malaysia Multimedia University)

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/09/13/PT/mbm.20100913.PT134594.id.html

13 September 2010

Lantaran sedang kuliah di Malaysia, Marsha Chikita Fawzi, 21 tahun, prihatin melihat panasnya hubungan Indonesia-Malaysia. Tak ingin hubungan di antara negeri serumpun ini makin rusak, putri pasangan Ikang Fawzi-Marissa Haque ini menggagas sebuah gerakan damai Indonesia-Malaysia. Bersama teman-temannya yang kuliah di Multi Media University (MMU), dia menggunakan simbol Unyil dan Upin-Ipin sedang bersalaman.

"Kami memilih ikon Unyil dan Upin-Ipin karena mereka dicintai masyarakat dan mewakili budaya masing-masing," katanya. Ide yang berawal dari obrolan santai di meja makan ini diwujudkan dengan membuat poster. Gambar itu kemudian disosialisasikan oleh Chikita dan teman-teman melalui jejaring sosial, Facebook dan Twitter, mulai 31 Agustus lalu.

Reaksi masyarakat ternyata menggembirakan. Banyak teman kuliah dan rekan kerjanya di Les Copaque Production, perusahaan animasi yang memproduksi Upin-Ipin, mengubah gambar profil di akun Facebook dengan poster tersebut. Selain membuat poster dan stiker, Chikita dan teman-teman berencana membuat pin bergambar tokoh boneka dan kartun tersebut.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Gampang Masuk Namun Susah Keluar (Kelulusannya): Marissa Haque Fawzi

Anekdotnya dikatakan bahwa kalau kuliah di Universitas Katolik terhormat seperti Unika Atmajaya Jakarta, maka kita sebagai mahasiswa boleh juga dikatakan gampang masuknya tapi susah keluarnya. mungkin karena disiplin tinggi dan lain sebagainya.

Trimakasih Banyak Unika Atmajaya: Marissa Haque

Trimakasih Banyak Unika Atmajaya: Marissa Haque

Entri Populer